Review Sepakbola Indonesia : dari Hendry Mulyadi sampai ke mimpi 2022

Sahabat, sungguh bukan karena saya pesimis dengan ambisi yang dicanangkan PSSI tempo hari itu ketika mereka dengan optimis menyatakan bahwa Indonesia siap untuk menjadi tuan rumah piala dunia 2022. Akan tetapi ini lebih sekedar sebuah review atas apa yang telah dilakukan PSSI demi mewujudkan impian itu.

Ketika kita melihat seorang Hendry Mulyadi tiba-tiba loncat turun ke lapangan hijau, menggiring bola, sampai dirubuhkan oleh aparat keamanan pada saat itu seperti menceritakan secara singkat bagaimana kondisi persepakbolaan Indonesia dewasa ini. Hampir semua sepakat bahwa level sepakbola Indonesia telah jauh tertinggal dari Negara-negara lain bahkan mungkin telah jatuh hingga ke level menyedihkan. Dan kita pun sepakat bahwa tahun 2009 inilah keterpurukan sepakbola Indonesia kian menjadi-jadi. Mulai dari ajang Sea Games ketika Timnas u-23 mencetak prestasi hasil yang sangat menyedihkan yaitu menjadi juru kunci dibabak penyisihan. Rekor terbaru timnas kita yang tidak layak dibanggakan. Kemudian timnas u-19 yang juga gagal pada piala AFC walaupun tim ini masih memiliki harapan. Dan akhirnya pada awal tahun timnas senior kita gagal lolos ke piala asia sekaligus gagal memberikan penampilan yang baik. Penampilan yang membuat Hendry Mulyadi loncat dari tribun ke lapangan utk mengekpresikan kekecewaannya yang sudah kian menumpuk. Ada apa ini ?

PSSSI harusnya bisa berkaca dari hasil buruk yang bertubi-tubi ini. Kritik demi kritik yang datang mestinya sudah bisa diperkirakan apa yang diinginkan oleh rakyat Indonesia. Rakyat atau publik menginginkan perubahan ! itu adalah suatu keniscayan. Apa yang berubah ? Bisa dikatakan banyak Mulai dari sistem kompetisi, pengembangan pemain muda berbakat, Sistem pelatnas yang lebih baik itu hanyalah beberapa hal yang mestinya menjadi fokus pembenahan. Bagaimana dengan wacana pengunduran diri para pengurus sebagai bentuk tanggung jawab ? Hal itu pun mendesak dilakukan. Karena sudah menjadi fakta bahwa dibawah kepengurusan saat ini prestasi Indonesia menurun drastis. Sayangnya PSSI melalui sekjennya Nugraha Besoes justru berkata bahwa soal mundur itu harus sesuai aturan yang berlaku. Kemudian ditambah lagi pernyataan ketua umum Nurdin Khalid yang menandaskan bahwa beliau tidak akan mundur dengan alas an tidak ada hubungannya antara kekalahan Indonesia dengan mundurnya beliau (detiksport jumat 08/01/2010).

Dengan kondisi seperti ini hati saya jadi bertanya pantaskah kita –dalam hal ini PSSI- mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2022 ? Ini bukan pertanyaan yang penuh dgn perasaan rendah diri tapi lebih kearah tahu diri. Pantaskah kita yang masih belum bisa mencetak prestasi mengesankan, bahkan untuk tingkat regional asia tenggara sekalipun menyatakan diri siap menjadi tuan rumah sebuah event besar sepakbola 4 tahunan itu ? Menjadi tuan rumah Piala Dunia jelas jadi kebangaan besar buat semua negara di dunia akan tetapi jika dipaksakan apakah justru akan jadi cemoohan dari bangsa-bangsa lain ? Padahal kalau mau jujur banyak sekali kekurangan kita disana-sini. Contohnya masalah infrastruktur , kita tahu hanya ada beberapa gelintir stadion bertaraf internasional di Indonesia. Kemudian masalah non teknis seperti transportasi. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana macetnya kondisi lalu lintas seandainya ada partai piala dunia di Gelora Bung Karno yang diadakan pukul 5 sore, selain itu juga mungkin bus pemain bakalan terjebak ditengah arus kemacetan hingga pertandingan tidak bisa dilakukan tepat pada waktunya. Dan pertanyaan utama adalah timnas kita, mampukah berbicara banyak pada event itu ? Saya takut bila dengan kualitas seperti ketika melawan Oman bisa-bisa kita jadi lumbung gol untuk tim lain. Dan bukan tidak mungkin akan muncul puluhan Hendry Mulyadi lain nanti. Bukankah itu justru kan lebih memalukan ?

Adalah penting bagi PSSI untuk lebih memfokuskan diri pada pencetakan prestasi bagi timnas daripada sekedar melontarkan wacana yang ambisius. Dengan demikian lebih terlihat bahwa PSSI low profile, dan lebih realistis. Titik Fokus pertama adalah berprestasi pada tingkat asia tenggara guna memulihkan kepercayaan diri timnas yang dulu dikenal sebagai tim yang tangguh. Lebih memperhatikan pada proses bukan pada mencetak hasil yang instan tapi dengan fondasi yang rapuh. Sepertinya Jepang bisa menjadi contoh yang baik. Sebelum J-league dimulai pada tahun 1990 tim-tim Jepang dipandang sebelah mata oleh tim lain, khususnya tim dari timur tengah. Namun perlahan tapi pasti, seiring dengan perbaikan kualitas J-league selaku tempat penggemblengan pemain-pemain local, klub-klub Jepang menjelma menjadi kekuatan yang menakutkan di kawasan asia. Demikian juga timnasnya yang tetap berprestasi dan menjadi peserta piala dunia secara regular.

Akhirnya saya berharap bahwa akan munculnya sebuah gebrakan dari PSSI demi menggapai impian prestisius menuju piala dunia 2022. Terobosan itu akan sulit dilakukan bila tidak dimulai dari diri sendiri seperti kata AA Gym mulai dari diri sendiri. Para pengurus, legawalah bahwa hasil-hasil buruk ini juga menjadi tanggung jawab anda sekalian. Mundur bukanlah kekalahan tapi adalah suatu sikap moral yang baik atas dasar tanggung jawab. Saya dan saya yakin juga Hendry “eji” Mulyadi dan para supporter Indonesia masih memimpikan sebuah timnas yang membanggakan, berkelas dan pantang menyerah dalam menghadapi lawan. Semua itu bukan hil yang mustahal tapi sekali lagi perlu kerja keras dari kita khususnya PSSI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: